Pada suatu pagi

Aimee menyusun kue-kue di dalam jar cantik ke dalam rak. Kemudian ia menata cupcakes yang sudah dihias dengan sangat menarik ke dalam lemari display. Roti-roti yang masih hangat pun disusunnya dengan rapi.

Tiba-tiba pintu bakery bergemerincing ketika dibuka. Seorang pelanggan masuk. Ia adalah seorang kakek dengan memakai tongkat dan mengempit koran di ketiaknya. Aimee menyapanya.

“Selamat pagi,” sambut Aimee ramah. Kakek itu tidak membalas sapaannya. Ia hanya melihat ke sekeliling ruangan. Aimee membiarkan laki-laki tua itu melihat-lihat kue. Ia terbiasa melayani pelanggan yang paling unik sekalipun.

Setelah melihat-lihat kakek itu berjalan menuju konter tempat Aimee berdiri. Waktu itu masih pagi sekali kira-kira pukul enam dan para pelayan toko yang bekerja untuk Aimee belum datang. Aimee memang selalu datang ke bakery miliknya lebih pagi. Ia sangat menyukai saat-saat dimana ia harus memajang kue dan roti buatannya sendiri.

“Tidak ada yang spesial di bakery ini,” ucap laki-laki tua itu. Aimee mengerutkan keningnya. Apa maksud perkataan kakek tua itu. Ia tersinggung mendengarnya. Sudah lima tahun ia menjalani usaha toko roti kecil-kecilan ini dan selama ini belum pernah ada yang mengatakan demikian kepadanya.

“Apa yang kau cari sebenarnya, Pak Tua?” tanya Aimee dengan sopan. Ia berusaha untuk menahan dirinya agar tidak marah.

“Adakah rasa yang lain? Roti-roti yang kau jual tidak ada yang spesial. Keju, coklat, coklat pisang, abon, kelapa, sosis, kismis. Ini sudah biasa. Aku mencari sesuatu yang beda,” ucap kakek itu dengan nada sedikit angkuh.

“Misalnya?” tanya Aimee.

“Kacang hitam misalnya…”

Aimee menahan tawa. Kacang hitam sebenarnya adalah kacang hijau yang kalau sudah diolah berubah warna menjadi hitam.  Kacang hitam biasa dipakai sebagai isian bapao dan bukan roti. Ah, kakek tua ini sudah pikun.

“Pak, kacang hitam itu biasa dipakai sebagai isian bapao dan bukan roti,” ujar Aimee lembut.

“Aku tahu! Kau tidak perlu mengajariku,” kata kakek itu dengan nada tinggi. Tetapi sedetik kemudian wajah tegasnya melembut. Aimee melihat genangan air mata di pelupuk matanya.

“Kalau istriku bisa, kau pun harus bisa Anak muda,” kata kakek itu. Aimee tidak mengerti maksud dari perkataan kakek itu.

“Maaf, apa maksudmu?” tanya Aimee.

“Istriku selalu membuatkanku roti dengan isi kacang hitam sebab ia tahu itu kesukaanku. Aku pencinta roti dan kacang hitam. Dan ia selalu membuatkanku roti kacang hitam meskipun itu bukan sesuatu yang biasa. Ibuku dulu suka membuatkannya untukku. Dan kemudian ketika ibuku meninggal, istriku melanjutkannya. Membuatkan roti isi kacang hitam untukku.” Air mata menetes di pipinya. Aimee menunggu dengan sabar apa yang ingin dikatakan kakek itu selanjutnya. Ia memberikan selembar tisu untuk laki-laki tua itu.

“Istriku tidak pernah menyukai kacang hitam. Tapi ia selalu membuatkannya untukku dan kami menyantapnya bersama selama lima puluh tahun sampai akhirnya ia jatuh cinta kepada kacang hitam. Ia bahkan menyukainya lebih daripada aku sendiri.  Tapi sekarang aku tidak akan pernah bisa makan roti isi kacang hitam lagi…” ujar kakek itu sambil terisak.

“Mengapa, Pak?” tanya Aimee penasaran.

“Ia didiagnosa menderita dimentia sebulan yang lalu. Ia tidak bisa ingat apa-apa lagi. Bahkan ia tidak bisa mengingatku. Aku sedih. Dan pagi ini aku datang ke toko rotimu untuk mencari roti isi kacang hitam. Aku ingin membawakannya untuk istriku. Aku tahu ia tidak akan pernah mungkin mengingatku dan mengingat apa yang kami sukai. Tapi paling tidak aku ingin mengembalikan senyumnya,” ujar kakek itu sambil menghapus air mata dengan punggung tangannya yang sudah sangat keriput.

Aimee mendengar cerita kakek itu dengan penuh perhatian. Ia membayangkan betapa baiknya hati istri si kakek. Bayangkan! Selama lima puluh tahun makan roti isi kacang hitam padahal ia tidak menyukainya. Ia melakukan itu demi suaminya.

Kemudian Aimee memutar otak mencari cara untuk membantu sang kakek.

“Pak, apa roti kesukaan istrimu sebelum ia menyukai kacang hitam?” tanya Aimee.

“Hmmm…biasa. Tidak ada yang spesial…”

“Tapi Pak, tidak bisakah Bapak sekali saja memberikan sesuatu yang benar-benar disukai oleh istrimu? Yeah…setelah selama lima puluh tahun ia harus memakan sesuatu yang ia tidak pernah suka,” kata Aimee. Wajah kakek itu memerah. Ia terlihat tidak menyukai perkataan Aimee tadi.

“Ia menyukainya. Sangat!”

“Ia terpaksa menyukainya demi cintanya padamu, Pak Tua,” ujar Aimee tak mau kalah. Mendengar itu si kakek terdiam dan berpikir.

Kakek itu menghela napas panjang. Kemudian ia berkata,” Kau benar, Anak Muda. Selama ini aku terlalu mementingkan diri sendiri. Aku tidak pernah mau peduli dengan apa yang dia suka.”

“Jadi apa yang istrimu suka, Pak?” tanya Aimee.

“Ah…hanya roti coklat…”

“Pak Tua, belajarlah untuk menghargai apa yang disukai oleh istrimu meskipun itu hanya sekedar roti coklat,” kata Aimee.

“Nak, aku kagum denganmu. Tidak salah aku mengunjungi toko rotimu. Aku belajar darimu tentang pengorbanan. Jadi selama ini istriku telah banyak berkorban untukku.”

“Nah, Pak Tua, sekarang maukah Bapak berkorban untuk istrimu? Menyukai apa yang disukai oleh istrimu?” tanya Aimee. Kakek itu mengangguk dengan semangat.

Aimee mengambil sebuah kotak kecil dan memasukkan dua potong roti coklat ke dalamnya.

“Pulanglah Pak Tua, istrimu menunggu,” kata Aimee sambil menyodorkan kantong berisi kotak roti. Ia juga menolak untuk menerima bayaran dari kakek itu.

“Terima kasih banyak, Nak. Besok dan seterusnya aku akan kembali ke sini untuk membeli roti coklat kesukaan istriku. Tapi kau harus mau dibayar ya,” kata kakek itu dengan gembira. Aimee mengangguk.

Hari itu Aimee bersyukur telah diberi pelajaran berharga dari Tuhan. Ia belajar untuk mencintai dengan tulus walaupun butuh pengorbanan yang besar. Bayangkan! Lima puluh tahun makan roti isi kacang hitam. Sungguh Aimee tidak dapat membayangkannya. Ia bersyukur suaminya tidak menyukai roti isi kacang hitam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s