The Geese (Para Angsa)

Marlene buru-buru pulang ke rumah setelah mendapat telepon bahwa mamanya datang untuk merayakan Natal bersama. Biasanya mama lebih suka merayakan Natal di rumahnya sendiri dan kami anak-anaknya yang mengunjunginya. Sepeninggal papa tahun lalu sekalipun tidak membuatnya ingin tinggal di rumah salah satu anaknya. Bagi Marlene itu lebih baik. Bukannya ia tidak sayang kepada mama namun di antara kedua kakak perempuannya, Marlene lebih sering berbeda pendapat dengan mama. Kedua kakak perempuannya lebih penurut dibandingkan dirinya. Ia tidak menyukai kebiasaan mama yang suka mengatur ini dan itu. Ribet…Jadi sewaktu mama menelepon bahwa ia ada di rumahnya, Marlene mengerang. Kacau.

Marlene membuka pintu rumah. Ia mendapati rumahnya rapi. Tidak ada mainan yang berserakan di lantai. Ia mendengar tawa dari dapur. Itu pasti mama dan Josh, anaknya yang baru berumur empat tahun.

Mata Marlene menyapu seisi ruangan. Ruangan sudah dihias dengan dekorasi Natal. Namun itu tidak sesuai dengan keinginan Marlene. Rupanya mama membawa seluruh hiasan Natalnya dan menghias rumah Marlene dengan gayanya. Marlene adalah seorang wanita yang simpel. Ia tidak begitu menyukai banyak pernak-pernik di rumahnya. Apalagi enam ekor angsa yang diletakkan di atas meja kopinya. Dari kecil ia benci angsa karena pengalaman buruknya dengan binatang itu. Tapi dulu Marlene tidak bisa protes ketika mama meletakkan pajangan angsa yang terbuat dari kayu dengan motif Natal itu di atas piano. Dan kini angsa-angsa jelek dari ukuran terbesar sampai terkecil itu ada di rumahnya. Di atas meja kopi kesayangannya!

Marlene masuk ke dalam dapur. Mama mendongak. Ia tersenyum. Wajah cantiknya sudah dipenuhi dengan banyak kerutan. Ia terlihat letih. Tidak seperti biasanya. Tapi ia terlihat bahagia. Ia sedang membentuk adonan kue. Josh berdiri di sebelahnya sambil menjilati adonan.

“Jangan Josh! Kamu tidak boleh menjilati adonan!” bentak Marlene. Mama dan Josh terkejut mendengar suara Marlene.

“Tidak apa-apa, Lin. Kamu dulu juga suka menjilati adonan,” ujar mama dengan tenang.

“Itu dulu, Ma. Sekarang aku tahu bahwa itu tidak boleh. Adonan itu masih belum matang.”

“Ah kamu itu terlalu berlebihan. Buktinya kamu sehat sampai sekarang,” kata mama santai.

“Ma! Josh itu anakku. Aku punya cara sendiri bagaimana mendidik dan mengurusnya. Dan…dan…bawa pergi angsa-angsa itu dari rumahku!” Dada Marlene turun-naik menahan emosi. Air matanya tumpah. Ia berlari meninggalkan dapur.

Mama tertunduk. Ia merasa sedih. Sejak dulu ia dan Marlene selalu berbeda pendapat. Apa yang dibuatnya selalu salah di mata Marlene. Mama menyelesaikan membuat kuenya. Ia memasukkan loyang berisi adonan ke dalam oven.

Aroma kue yang sedang dipanggang menyebar ke seluruh ruangan. Marlene menciumnya dari kamarnya. Ia selalu menyukai aroma kue yang dipanggang mamanya. Tapi ia sedang kesal dengan mama. Ia malas bertemu dengannya.

Teo membangunkan Marlene. Rupanya ia tertidur. Jam menunjukkan pukul delapan malam.

“Mana mama?” tanya Teo. Marlene duduk di atas tempat tidur dengan wajah bingung.

“Maksudmu?” tanya Marlene kepada suaminya.

“Katanya mama datang. Tapi aku cari-cari kok gak ada. Josh tadi bilang katanya oma pulang ke rumah,” kata Teo. Marlene menarik napas.

“Aku tadi kesal sama mama. Sebenarnya aku gak boleh bersikap seperti itu. Dan bukan maksudku meminta mama pulang.  Tapi sudahlah. Biar mama mengerti kalau aku berbeda dengannya,” kata Marlene. Ia turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Matanya dengan cepat diarahkan menuju meja kopi. Syukurlah angsa-angsa itu sudah tidak ada lagi. Kemudian ia melihat ada beberapa toples kue keju kegemarannya di atas meja makan. Josh sedang mencemilnya.

“Kue keju oma enakkkk…”

Marlene tersenyum.

“Lin, menurutku kau harus menelepon mama,” kata Teo.

“Iya nanti. Aku mau mandi dulu.” Marlene berjalan menuju kamar mandi ketika telepon berbunyi.

“Halo…” Teo menjawab telepon itu. Tiba-tiba wajahnya menegang. Marlene jadi cemas melihatnya. Ia tidak sabar menunggu sampai Teo mengakhiri pembicaraan.

“Ada apa?” tanya Marlene.

“Mama…”

“Mama kenapa?” Jantung Marlene berdegup kencang.

“Mama jatuh di kamar mandi. Sekarang koma…”

********************************

Marlene menatap nisan mama dengan pandangan nanar. Hatinya perih. Sejuta penyesalan menghantui dirinya. Air mata terus bercucuran membasahi wajahnya. Tapi semua sudah terlambat. Mama sudah pergi.

Toples-toples berisi kue keju kesukaan Marlene merupakan kenangan terakhir dari mama. Kue-kue bahkan angsa-angsa itu menjadi begitu berharga sejak kepergian mama.

Marlene memeluk angsa-angsa itu erat. Ia merasa ada kasih mama yang ia rasakan saat itu. Dan terngiang di telinganya mama menyanyikan lagu Twelve days of Christmas sambil meletakkan angsa-angsa itu di atas piano seperti yang selalu dilakukannya.

“On the sixth day of Christmas my true love sent to me six geese…”

Satu pemikiran pada “The Geese (Para Angsa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s