Let His Will Be Done

Pasangan muda itu duduk berhadapan. Mereka saling menatap dengan penuh kasih. Tangan mereka pun saling menggenggam. Ada perasaan hangat tiap kali melihat mereka. Sang wanita dengan setia mengatur bantal untuk sang pria supaya ia bisa duduk dengan nyaman. Selesai menyantap sarapan pagi mereka akan meninggalkan ruang makan rumah sakit dan kemudian duduk-duduk sejenak di taman sebelum kembali masuk ke ruangan.

Aku mengenal pasangan itu ketika aku ditugaskan untuk menjadi dokter jaga. Suatu malam aku mendapatkan panggilan ke kamar tempat laki-laki itu dirawat. Istrinya memanggilku karena tiba-tiba sang suami mengalami rasa sakit yang begitu hebat. Ia terus mengerang kesakitan sehingga aku terpaksa menyuntikkan obat penghilang rasa sakit dengan dosis tinggi. Sejak saat itu hubungan kami menjadi dekat. Aku selalu menyempatkan diri berkunjung ke kamar perawatan untuk sekedar menyapa. Aku menyukai mereka. Mereka membuat malam-malam piketku terasa tidak lagi memberatkan.

Mereka adalah pasangan muda yang baru menikah dua tahun. Sang suami adalah seorang Trainer di sebuah perusahaan besar. Tak heran bila ia selalu bersikap positif.  Namun kemudian ia didiagnosis mengidap penyakit yang cukup serius.  Mereka berharap keajaiban. Berharap mujizat meskipun rasanya mustahil. Tapi mereka tidak putus asa. Mereka tidak mengeluh dan menyalahkan Tuhan.

Aku tak habis pikir mengapa orang-orang sebaik mereka harus mengalami masalah berat seperti itu.  Mereka setia dan taat kepada Tuhan.

Aku tak akan pernah melupakan saat dimana kami bertiga duduk di taman rumah sakit sambil membicarakan kehidupan. Sang istri berkata begini,”Aku tidak pernah menyesal menikah dengan laki-laki di sampingku ini meskipun begini keadaannya. Aku percaya Tuhan punya rencana besar bagi kami. Aku percaya rencana Tuhan tidak berhenti sampai di sini. Asal kita tetap setia dan percaya kepadaNya.”

Perkataan wanita itu terus terngiang di telingaku. Aku teringat istriku di rumah. Ia menderita karena ulahku yang merasa kecewa dengan apa yang kami alami. Aku menyalahkan Tuhan. Aku bertanya mengapa Dia mengizinkan ini semua terjadi. Aku masih belum bisa menerima vonis dokter terhadap istriku bahwa ia tidak akan pernah bisa memiliki anak. Namun sejak aku bertemu Michael dan Tiara, aku mulai belajar untuk menerima rencana Tuhan di hidup kami. Aku percaya Tuhan memiliki rencana yang lebih indah bagi kami. Anak bukanlah satu-satunya alasan kami dapat hidup lebih bahagia.

Sore itu dengan langkah ringan aku memasuki rumah sakit tempat aku bertugas. Aku bergegas menuju ruang perawatan tempat pasien favoritku dirawat. Tapi ternyata ruangan itu telah kosong! Oh…kemana mereka? Apakah…

“Di mana pasien bernama Michael dirawat?” tanyaku kepada suster yang berjaga sore itu.

“Oh…Michael Jaya? Dia meninggal pagi tadi. Jenazahnya ada di rumah duka rumah sakit ini sekarang,” jawab suster. Aku terhenyak di kursi. Tapi aku tidak berani bertanya kepada Tuhan mengapa Ia memanggil orang baik itu begitu cepat. Aku belajar untuk berdiam diri. Setelah perasaanku tenang, aku bergegas pergi menuju rumah duka yang berada di belakang rumah sakit.

Tiara, sang istri, duduk di samping peti jenazah. Wajahnya berduka tetapi ia begitu tenang. Ia menyambutku dengan hangat.

“Dia sudah gak kesakitan lagi, Dok,” ujar Tiara sambil tersenyum. Ia memandangi wajah pucat suaminya yang terbujur kaku di dalam peti.

“Maaf atas kehilanganmu…” kataku lirih. Wanita tegar itu mengangguk. Air mata menetes di pipinya.

“Saya kehilangan. Tapi saya tahu Tuhan pasti sanggup menghibur saya,” kata Tiara dengan suara bergetar.

“Ya itu pasti.  Dan seperti katamu rencana Tuhan tidak berhenti sampai di sini,” kataku. Tiara mengangguk mantap.

“Tahukah kau bahwa hidup kalian sudah memberkati saya? Untuk menobatkan saya Tuhan perlu mengirim kalian. Tuhan sudah memakai hidup kalian untuk menyadarkan saya. Kadang Tuhan memakai masalah untuk menyadarkan kita. Andai suamimu tidak pernah sakit, mungkin kita tidak pernah bertemu. Seandainya pun kita bertemu aku tidak akan pernah belajar dari masalah kalian. Aku berhutang banyak kepada kalian.  Terima kasih.”

Aku menjabat erat tangan Tiara dan memberikan kalimat penghiburan sekali lagi. Aku mengucapkan selamat jalan kepada sahabat baruku, Michael, dan bersyukur kepada Tuhan karena sudah mempertemukan kami.

Aku meninggalkan ruangan itu dan kembali ke tempat tugasku. Hembusan angin sore yang dingin membuat hatiku terasa pedih. Kehilangan itu memang menyakitkan. Tapi aku belajar untuk menerima apapun rencana Tuhan terutama di hidupku. Biarlah kehendakNya dinyatakan di hidupku.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s