The Gift

Avery merasa kesal sepanjang hari. Ia melempar setumpuk laporan ke atas meja kerjanya. Bagaimana mungkin ia dapat bekerja dengan baik kalau urusan yang satu ini belum selesai. Untuk sebagian orang mungkin hal ini bukan masalah. Tapi bagi Avery ini masalah.

Wanita yang berprofesi sebagai Sales Director itu sibuk menelepon ke sana ke mari. Semua menolaknya dengan alasan sudah tidak menerima pesanan lagi. Itulah yang membuat kepala Avery berdenyut sepanjang hari. Ia sudah mencoba minum secangkir kopi yang biasanya ampuh menyembuhkan denyut di kepalanya. Tetapi sekali ini tidak bisa.

“Aku akan mencoba untuk yang terakhir kali. Kalau tidak bisa juga terpaksa aku harus hunting di butik-butik terkenal yang hanya menyediakan limited edition,” ujar Avery dalam hati. Kemudian dengan lincah Avery menekan tombol-tombol di pesawat teleponnya.

“Avena Boutique.”

“Ya, halo Avena Boutique. Apakah Anda masih menerima pesanan?” tanya Avery dengan penuh harap.

“Untuk kapan?” tanya wanita di seberang sana.

“Natal.”

” Wah maaf kalau untuk Natal kami sudah penuh. Sudah sejak akhir Oktober kami menutup pesanan untuk Natal,” kata wanita itu dengan menyesal.

Avery tersenyum kecut. Ia sudah menduganya. Ia mengucapkan terima kasih dan mematikan telepon. Ia menarik napas panjang. Udara memenuhi rongga dadanya sampai penuh.

Dengan sigap Avery mengambil sebuah majalah wanita edisi terbaru. Ia ingin melihat koleksi butik terkenal di kota itu. Ia membolak-balik majalah tetapi tidak menemukan satu pun yang cocok. Ia mulai cemas. Ia tidak dapat membayangkan apa jadinya Natal tanpa baju baru. Ini sudah tradisi. Sejak kecil orang tuanya sudah menanamkan kebiasaan ini.

Avery memejamkan matanya. Ia membayangkan dirinya yang adalah anggota paduan suara gereja berdiri di barisan depan tanpa busana Natal yang baru. It’s gonna be a nightmare!

Interkom di mejanya berbunyi. Suara Managing Directornya terdengar. Avery mengerang. Bosnya meminta dia untuk menghadiri meeting. Budgeting meeting memang melelahkan. Ia ingin kabur. Tapi itu tidak mungkin.

Meeting itu menyita waktu Avery. Setelah selesai ia cepat-cepat membereskan meja kerjanya dan menyambar tasnya. Sekarang baru pukul tujuh tiga puluh malam. Ia masih memiliki cukup waktu mengunjungi mal tempat butik ternama itu berada.

Mobil sedan putih Avery melaju keluar area parkir gedung kantor tempatnya bekerja. Rupanya karena hujan baru berhenti, jalan raya malam itu macet. Macet total. Tidak bergerak sama sekali.

” What a day, what a day,” gerutu Avery sambil memukul setir mobil. Benar-benar hari yang buruk.

Dua jam melawan macet menguras habis tenaga Avery. Perutnya keroncongan. Satu-satunya restoran yang masih buka adalah restoran cepat saji 24 jam. Ia tidak punya pilihan. Sebenarnya ia tidak terlalu suka makan makanan cepat saji. Tapi apa boleh buat. Maka masuklah Avery ke dalam restoran. Udara dingin yang dihasilkan mesin pendingin menyergap tubuh wanita itu. Ia merapatkan jaket kulit coklatnya.

“Cheese burger, french fries dan air mineral,” kata Avery. Setelah selesai membayar pesanannya ia pun membawa nampannya menuju ke sebuah tempat duduk yang berada di pojok ruangan.

Avery menikmati makanannya. Pada saat itu masuklah seorang gadis muda berusia kira-kira dua puluh tahun ke dalam restoran itu. Ia mengenakan mantel tipis berwarna hijau muda. Mantel itu melapisi seragam kerjanya yang berwarna hitam. Ia merapatkan mantelnya. Bibirnya terlihat gemetar kedinginan.

Gadis itu memesan makanan. Kemudian ia mengambil dompetnya yang sudah lusuh. Ia mengorek-ngorek isi dompetnya. Kemudian diambilnya beberapa uang kertas, menghitungnya dan meletakkannya di atas meja kasir. Rupanya uangnya kurang. Ia merogoh kantong jinsnya dan mengeluarkan dua lembar uang ribuan yang sudah lusuh. Setelah membayar ia membawa nampannya dan mengambil tempat tak jauh dari tempat di mana Avery duduk. Gadis itu duduk menghadap ke luar.

Avery memerhatikan gadis itu. Gadis itu membuka bungkusan burgernya. Namun kemudian ia berhenti. Ia membungkus kembali burger itu. Ia mengambil tas kerjanya yang berwarna coklat dan mengenakannya kembali. Ia mengambil bungkusan burger dan minumannya. Setelah itu ia keluar dari restoran. Avery menatap kepergian gadis itu. Ia melihat gadis itu berjalan menghampiri seorang tuna wisma yang duduk di trotoar. Gadis itu menunduk dan memberikan bungkusan burger dan minumannya. Avery terkejut melihat apa yang dilakukan gadis itu. Ia tidak habis pikir. Setelah dengan susah payah ia berusaha menbayar makanannya, sekarang ia memberikannya begitu saja kepada orang yang tidak dikenalnya.

Tuna wisma itu menganggukkan kepalanya berkali-kali sebagai tanda ucapan terima kasih. Gadis itu menepuk pundak ibu tuna wisma itu lalu pergi.

“Aku belum pernah melihat hal ini sebelumnya. Betapa mulianya hati gadis itu. Dari keterbatasannya ia sanggup memberi,” pikir Avery. Hatinya tersentuh. Buru-buru Avery keluar dari restoran untuk mengejar gadis itu.

“Mba, Mba tunggu!” panggil Avery. Gadis bermantel hijau tipis itu menoleh.

“Ada apa?” tanya gadis itu bingung. Avery berdiri berhadapan dengan gadis itu.

” Maaf saya membuatmu bingung. Saya begitu tersentuh melihat apa yang kamu lakukan untuk ibu tuna wisma itu tadi. Kamu memberikan makananmu kepadanya. Padahal pastinya kau lapar kan…”

Gadis itu tersenyum. “Saya memang lapar sehabis bekerja. Tapi paling tidak saya masih memiliki tempat untuk berteduh. Tetapi ibu itu tidak. Ia tidak memiliki baik makanan maupun tempat tinggal. Jadi ketika saya memberinya makanan, paling tidak malam ini ibu itu memiliki sesuatu untuk mengisi perutnya,” ujar gadis itu. Perkataannya membuat Avery terharu. Seumur hidupnya sampai usianya tiga puluh tiga tahun ia tidak pernah memberi seperti gadis itu memberi. Ia memang suka memberi sama seperti kedua orang tuanya. Tetapi mereka suka memberi untuk orang-orang yang mereka tahu pasti dapat membalas pemberian mereka. Ia belum pernah memberi untuk orang-orang yang tidak bisa membalas pemberiannya. Ia selalu memberi dengan pamrih. Pun ketika ia memberi donasi untuk gereja. Ia akan menuliskan namanya besar-besar di amplop persembahan.

“Siapa namamu?” tanya Avery.

“Susan.”

“Susan, hatimu begitu mulia. Saya sangat kagum kepadamu,” ujar Avery tulus. Ia melepaskan jaket kulit yang dibelinya di luar negeri. Kemudian ia memberikannya kepada Susan.

“Ini untukmu. Mantelmu terlalu tipis. Tidak bisa melindungi tubuhmu dari hawa dingin. Sekarang musim hujan,” kata Avery. Gadis itu melongo. Jaket kulit itu begitu bagus. Gajinya sebagai seorang petugas di loket parkir tidak akan cukup untuk dapat membeli jaket sebagus itu. Tapi Susan menolak pemberian itu.

“Jangan Mba, jaket ini terlalu bagus untuk saya.”

Avery memaksa gadis itu untuk menerima pemberiannya. Akhirnya gadis itu pun menerimanya. Ia mengucapkan terima kasih.

“Susan, terima kasih untuk pelajaran berharga yang kamu berikan malam ini. Saya belajar tentang memberi dengan benar. Seharusnya saya tidak perlu kesal sepanjang hari ini hanya karena saya tidak memiliki baju baru untuk Natal nanti. Seharusnya saya belajar untuk memberi ketimbang menyenangkan diri saya sendiri. Karena memang itulah makna Natal sesungguhnya. Kasih. Kasih itu memberi bukan menerima. Kasih itu bukan untuk menyenangkan diri sendiri.”

Avery mengucapkan selamat tinggal. Ia pun pulang dengan hati yang lebih ringan dan sukacita. Ia baru menyadari ternyata memberi tanpa mengharapkan imbalan lebih membahagiakan. Ia sungguh belajar banyak hari itu. Ia teringat akan perkataan Tuhan tentang memberi. Ketika kita memberi untuk orang yang tidak mampu berarti kita sudah memberi untuk Tuhan. Itulah makna Natal. Kasih yang memberi bukan menerima.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s